Kurikulum di Kampung Pemulung

  • Bagikan
Kurikulum di Kampung Pemulung

SEHILIR.COM – Papan tulis digital layar sentuh berspesifikasi mutakhir itu tampak terasing di bawah naungan atap terpal biru kamp pemukiman pemulung Rawa Kucing. Sinar layarnya yang berkekuatan ribuan lumens memancar kontras, menyinari wajah-wajah kusam belasan anak jalanan yang duduk bersila di atas lembaran kardus bekas yang berbau sampah busuk. Di sela-sela lipatan karton usang itu, sisa kelembapan tanah rawa merembes lambat, meninggalkan noda basah sewarna kelabu yang dingin.

Hadi mengetuk ikon aplikasi kecerdasan buatan di monitor dengan ujung jarinya yang bersih. “Hari ini sistem akan menjabarkan logika struktur tata kota modern menggunakan simulasi algoritma pintar,” ujarnya.

Dari pelantang suara nirkabel yang dipasang di tiang bambu darurat, vokal robotik tiruan mulai berkumandang dengan intonasi yang teratur dan tertib. Mesin itu menjabarkan konsep tata ruang hunian ramah lingkungan, lengkap dengan visual animasi gedung pencakar langit berteknologi panel surya dan sabuk hijau kota. Anak-anak pemulung itu menatap pendar gambar tersebut dengan sepasang mata yang mematung kaku. Di depan mereka, realitas visual yang dipamerkan oleh teknologi kecerdasan buatan itu terasa laksana sebuah dongeng dari planet lain yang terasing, sebuah peradaban berjarak paku yang tak menyentuh sejengkal pun tanah tempat mereka berpijak.

Hanya beberapa depa di luar batas tenda terpal kelas, deretan truk jungkit milik dinas kebersihan kota terus-menerus menderu gencar. Ban-ban raksasanya melindas jalan tanah hingga meninggalkan parit-parit lumpur hitam yang pekat, menumpahkan berton-ton gunungan sampah baru yang baunya menyengat rongga dada. Angin siang bertiup kencang, menerbangkan ratusan lalat hijau dan debu tipis berserat plastik, mengotori permukaan layar digital seharga ratusan juta rupiah tersebut.

“Pak Guru Hadi…” seorang anak laki-laki bertubuh kurus—Saka—mengacungkan tangannya yang hitam penuh noda oli bekas.

“Ya, Saka?”

“Apakah mesin pintar di dalam komputer itu tahu ke mana perginya air limbah hitam yang saban sore merembes masuk ke bawah kolong tempat tidur panggung kami?”

Hadi seketika terkunci lidahnya, kalimat teorinya macet di tenggorokan. Ia melirik ke arah layar monitor komputer jinjingnya. Sistem kecerdasan buatan di dalamnya hanya mampu merespons pertanyaan Saka dengan memunculkan bagan grafik siklus hidrologi perkotaan yang ideal—sebuah skema pengolahan limbah bawah tanah metropolitan yang bersih, tanpa sedikit pun menyentuh realitas kubangan air beryodium tinggi yang sedang mengepung pemukiman mereka hari ini.

BACA JUGA:  Munculnya HMPV sebagai Virus Baru di Beberapa Negara, Simak Perbedaannya dengan Covid-19

Ketimpangan teknologi di batas kota ini tidak lagi berupa angka indeks statistik di dalam laporan menteri; ia berwujud sekat tebal yang memisahkan antara mimpi-mimpi digital kementerian dengan bau busuk tanah yang nyata di bawah kaki anak-anak didik Hadi. Di atas kertas program pusat, kelas darurat ini adalah indikator keberhasilan penetrasi teknologi ke area terpinggir. Namun di atas ubin semen yang retak ini, kacamata canggih dan data biner itu berubah wujud menjadi sepasang dinding kaca angkuh yang mengisolasi penderitaan mereka dari solusi nyata.

Sebelum bel tanda istirahat dibunyikan dari posko relawan, Hadi memilih untuk mematikan stopkontak inverter baterainya. Layar digital yang megah itu seketika padam, menyusut menjadi setitik pendar biru sebelum akhirnya beralih wujud menjadi sebidang kaca hitam mati yang memantulkan bayangan wajah kusam mereka semua.

“Kelas digitalnya kita cukupkan sampai di sini dulu,” kata Hadi sembari melipat tripod layarnya dengan gerakan tanpa tergesa. “Sekarang, bawa ember plastik kalian masing-masing. Hari ini Bapak mau mengajari kalian cara menyaring air sumur keruh menggunakan lapisan arang bakau dan pasir kali di belakang tenda.”

Anak-anak pemulung itu langsung melompat bangkit dengan sorak-sorai yang jauh lebih riuh ketimbang saat mereka melihat animasi kota pintar tadi pagi. Sinar lesu di kelopak mata mereka mendadak luruh, digantikan oleh ketangkasan fisik yang selama ini menghidupi mereka di atas tumpukan sampah. Saka berlari paling depan, memimpin kawan-kawannya memburu jeriken kosong berwujud penyok yang bersandar di tiang seng.

Hadi mengikuti langkah kecil mereka dari belakang dengan sebaris rasa takzim yang tumbuh di dada. Langkah kakinya terasa berat, terbenam beberapa sentimeter di dalam bubur tanah rawa yang berlumut. Di bawah pohon johar yang tumbuh meranggas di belakang area kamp, sebuah sumur galian sedalam tiga meter memamerkan airnya yang sewarna air teh pekat—berminyak di permukaan dan berbau karat besi yang menyengat.

“Susun arangnya di bagian paling bawah, Saka. Jangan biarkan ada celah kosong,” perintah Hadi, berjongkok di samping ember plastik milik muridnya.

Jemari kecil Saka yang kasar bergerak dengan ketelitian yang terlatih, menjajalkan potongan-potongan hitam arang bakau di atas lapisan kain kaos usang. Anak-anak yang lain mengerumuni mereka dalam diam yang takzim, sesekali menyodorkan sejumput pasir sungai yang bersih atau serpihan batu kerikil yang mereka pungut dari sela-sela roda truk semen kemarin sore. Tidak ada suara robotik dari pelantang nirkabel malam ini. Hanya ada bunyi gesekan batu, desis angin yang membawa bau sangit plastik terbakar, dan ketukan gayung gayung seng yang beradu dengan dinding ember.

BACA JUGA:  Cegah Munculnya Jerawat Haid, Lakukan 9 Tips Ini!

Ketika air sumur keruh itu dituangkan melewati susunan material darurat tersebut, semua kepala merunduk rapat, menahan napas di tenggorokan. Detik-detik bergulir lambat laksana tetesan pertama yang mengucur dari lubang bawah ember.

Tetes.

Tetes.

Cairan yang keluar mula-mula masih membawa sisa jelaga kelabu, namun pada tetesan kesepuluh, air itu berangsur-angsur menjernih—kehilangan warna teh pekatnya, menyisakan cairan bening yang murni tanpa endapan lumpur di dasar wadah.

Saka spontan meletupkan tawa renyahnya, memamerkan deretan giginya yang tidak rata. Ia mencelupkan ibu jarinya ke dalam air bening itu, mengusap permukaannya dengan takjub yang telanjang. “Pak Guru… airnya tidak lagi berbau karat.”

Hadi tersenyum teduh, setitik air hangat merebak di sudut kelopak matanya yang lelah. Di bawah kolong langit kampung pemulung yang pekat oleh lalat hijau, ia menyadari satu hal yang abadi: esensi tertinggi dari ilmu pengetahuan di tempat terbuang bukan lagi tentang memaksakan kurikulum masa depan yang melompat jauh ke awan demi validasi statistik, melainkan tentang keberanian seorang pengajar untuk mematikan mesin pintar demi memberikan prasyarat bertahan hidup yang paling jujur bagi anak manusia agar hari esok mereka tidak mati lemas oleh lingkungan yang merusak. Martabat seorang guru sejati tidak pernah diuji oleh seberapa canggih resolusi layar sentuhnya, melainkan oleh seberapa dalam jemarinya bersedia ikut kotor meraba lumpur demi menyelamatkan satu jiwa di depan matanya.***

—-

*Penulis: Dwi Scativana Isnaeni adalah penulis asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email : dwi.scativana23@gmail.com. Instagram : @scativana.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *