Mahasiswa ISBI Papua Juarai Kompetisi Tari KTI, Siap Wakili Kawasan Timur ke Tingkat Nasional

  • Bagikan
Mahasiswa ISBI Papua Juarai Kompetisi Tari KTI, Siap Wakili Kawasan Timur ke Tingkat Nasional

MAKASSAR – Sejumlah mahasiswa asal Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua berhasil meraih juara dalam kompetisi tari tingkat Kawasan Timur Indonesia (KTI) melalui karya tari bertema alam. Kemenangan tersebut mengantarkan kelompok penari dari Sanggar Original Art Papua (OAP) sebagai wakil KTI pada ajang nasional yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang.

Prestasi tersebut diraih dalam ajang iForte National Dance Competition (NDC) bertajuk “Inspirasi Diri” yang digelar di Kota Makassar, Kamis. Dalam kompetisi tersebut, OAP berhasil mengungguli dua finalis lainnya, yakni Tolopani dari Universitas Negeri Gorontalo dan Baine Maellok dari Universitas Ciputra Makassar.

Penari OAP, Steven Lazarus Kawer, menyampaikan rasa bangga atas pencapaian yang diraih timnya setelah melalui proses kompetisi yang ketat.

“Konsep karya kami berangkat dari alam sebagai entitas yang hidup. Tentu kami bangga dan bersyukur karena bisa jadi juara. Kedatangan kami ke Makassar tidak sia-sia,” ujarnya.

Steven menjelaskan, alam bagi masyarakat Papua tidak sekadar ruang hidup, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran nilai-nilai kehidupan. Menurutnya, alam mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan, menghormati ciptaan Tuhan, serta memanfaatkan sumber daya secara bijak sebagai penopang keberlangsungan hidup.

BACA JUGA:  Pemkab Pamekasan Naikkan Harga Tiket Wisata di Destinasi Binaan, Berikut Alasannya

“Gagasan ini kami ekspresikan melalui karya tari dengan fokus pada koreografi kaki, penggunaan alat, serta kostum dan busana yang memiliki makna simbolik,” kata Steven.

Salah satu properti utama yang digunakan dalam pertunjukan tersebut adalah dayung. Properti itu dimaknai sebagai simbol kehidupan masyarakat Papua di wilayah pesisir yang menggantungkan hidup pada laut melalui aktivitas melaut dan menangkap ikan.

Dayung tersebut kemudian dieksplorasi lebih jauh dalam koreografi untuk merepresentasikan masyarakat Papua yang hidup di wilayah pegunungan.

“Dayung kami transformasikan secara visual dan gerak menjadi simbol tombak dan alat berburu, menggambarkan relasi manusia dengan alam serta aktivitas berburu sebagai bagian dari budaya untuk bertahan,” urainya.

Seluruh elemen gerak, properti, dan kostum tersebut dirangkai oleh tim yang terdiri dari empat penari menjadi satu kesatuan koreografi yang merefleksikan identitas, keberagaman, serta filosofi hidup masyarakat Papua.

BACA JUGA:  Kalapas Narkotika Pamekasan Temui Bupati, Dorong Sinergi Program Pembinaan Warga Binaan

Sementara itu, Head of Marketing Communication iForte, Victor Sihombing, menjelaskan bahwa kompetisi serupa akan digelar di 12 kota lainnya di Indonesia. Namun, proses kurasi awal dilakukan secara daring untuk menjaring peserta dari seluruh wilayah, termasuk Kawasan Timur Indonesia.

“Ini kota kelima dari total 13 kota yang akan menjadi tempat penyelenggaraan sepanjang tahun ini, sekaligus menjadi seri kedua dari kompetisi yang sebelumnya telah dilaksanakan tahun lalu,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, kompetisi dibagi ke dalam dua kategori, yakni tingkat SMA/SMK sederajat dan perguruan tinggi. Di Kota Makassar, tercatat 13 peserta terpilih dari total 45 pendaftar yang mengikuti tahapan seleksi daring untuk kemudian tampil secara langsung.

Victor menilai tingginya jumlah pendaftar mencerminkan antusiasme pelajar dan mahasiswa terhadap kompetisi seni tari berskala nasional. Ia juga menilai Makassar sebagai kota yang memiliki kekayaan seni dan budaya yang kuat.

Melalui kompetisi tersebut, iForte berharap dapat mendorong tumbuhnya gerakan kebudayaan yang berkelanjutan, khususnya di kalangan generasi muda.**

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *