27 Pasien Cuci Darah di Pamekasan Terlantar, Bupati Upayakan Solusi Antarwilayah

  • Bagikan
27 Pasien Cuci Darah di Pamekasan Terlantar, Bupati Upayakan Solusi Antarwilayah

PAMEKASAN, SEHILIR.com – Sebanyak 27 pasien hemodialisis (HD) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, kesulitan mendapatkan layanan cuci darah akibat keterbatasan fasilitas dan jadwal pelayanan di RSUD Smart Pamekasan. Saat ini, rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut hanya mampu melayani hingga sif (shift) ketiga, sehingga tidak dapat mengakomodasi seluruh pasien yang membutuhkan perawatan rutin.

Menanggapi situasi tersebut, Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi dengan sejumlah daerah tetangga guna memperluas akses layanan hemodialisis bagi warga Pamekasan.

“Kami sudah melakukan komunikasi dengan pemerintah kabupaten sekitar, seperti Sumenep, Sampang, dan Bangkalan, agar mereka bisa membuka layanan hingga sif ketiga. Ini supaya pasien dari Pamekasan dapat tertampung di sana,” ujar Bupati, Jumat (17/5/2025).

BACA JUGA:  Puasa Ayyamul Bidh Rajab 1447 H Jatuh Awal Januari 2026, Ini Jadwalnya

Selain mengupayakan kerja sama antardaerah, Bupati juga mengungkapkan adanya tawaran dari pihak swasta untuk membantu pembiayaan layanan HD bagi pasien yang tidak terlayani oleh BPJS. Namun, rencana tersebut masih terbentur regulasi teknis yang mengatur mekanisme pembiayaan layanan kesehatan.

“Ada pengusaha yang siap membantu menanggung biaya cuci darah secara pribadi, tapi aturan belum mengizinkan. Karena itu, kami sedang mencari solusi agar pasien tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian,” ucapnya.

KH. Kholilurrahman juga menegaskan bahwa menambah sif keempat di RSUD Smart bukan solusi yang ideal. Menurutnya, pengoperasian mesin hemodialisis secara berlebihan berpotensi menurunkan kualitas pelayanan dan mempercepat kerusakan alat.

BACA JUGA:  Bupati Pamekasan Serahkan SK kepada 58 CPNS Formasi 2024

“Mesin HD tidak bisa dipaksa bekerja 24 jam nonstop. Ini bukan hanya soal teknis, tapi juga menyangkut kualitas hasil dialisis dan usia alat,” jelasnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Pamekasan berencana mengalokasikan anggaran pengadaan mesin hemodialisis tambahan pada tahun 2026. Hal ini diharapkan dapat mengurangi antrean pasien dan meningkatkan kapasitas pelayanan RSUD Smart.

“Pengalaman ini menjadi evaluasi penting bagi kami dalam menyusun kebijakan ke depan. Insyaallah, tahun depan akan kami anggarkan mesin baru agar kapasitas layanan bisa ditingkatkan,” pungkasnya.**

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *