BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar rangkaian agenda seni, budaya, dan olahraga bertajuk Banyuwangi Attractions 2026. Program tahunan ini menghadirkan 86 atraksi yang sebagian besar merupakan tradisi dan kesenian lokal yang telah lama mengakar di tengah masyarakat.
Sejumlah tradisi khas Banyuwangi masuk dalam kalender agenda tersebut, di antaranya Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Seblang, hingga Kebo-Keboan. Event-event ini tak hanya menjadi tontonan wisata, tetapi juga bagian dari ritual adat yang dijaga lintas generasi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penyelenggaraan Banyuwangi Attractions menjadi langkah strategis daerah dalam memperkuat jati diri budaya sekaligus mendukung arah kebijakan nasional.
“Banyuwangi Attraction salah satu cara Banyuwangi menguatkan identitas lokal daerah, serta ajang konsolidasi warga. Ini sesuai dengan program Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) dari Presiden Prabowo. Di mana ASRI mengamanatkan agar setiap daerah menguatkan seni budaya daerah yang memperkaya budaya nasional,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Sabtu (21/2/2026).
Ipuk menjelaskan, Pemkab Banyuwangi telah meluncurkan program Banyuwangi ASRI sebagai bentuk percepatan implementasi Indonesia ASRI. Pada aspek “Indah”, program tersebut diterjemahkan melalui pembangunan sektor pariwisata yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta berbasis kearifan lokal. Banyuwangi Attractions menjadi salah satu instrumen utamanya.
Menurutnya, kekayaan budaya Banyuwangi perlu dikelola secara aktif agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
“Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya tradisi, seni pertunjukan budaya. Namun, budaya tidak cukup hanya diwariskan. Ia harus dirawat, dipentaskan, dan dibanggakan,” kata Ipuk.
Ia menegaskan, Banyuwangi Attractions dirancang sebagai ruang kolaboratif yang menyatukan budaya, olahraga, dan sektor pariwisata dalam satu panggung besar.
“Event-event ini bukan sekadar tontonan, tetapi ruang ekspresi bagi seniman lokal, generasi muda, dan pelaku ekonomi kreatif. Atraksi yang dikemas apik ini menjadi cara kami menguatkan identitas budaya sekaligus memastikan tradisi tetap hidup dan relevan dengan zaman,” imbuhnya.
Sejumlah agenda budaya utama telah dijadwalkan sepanjang 2026. Tumpeng Sewu dan Barong Ider Bumi kembali digelar sebagai ritual adat tahunan. Gandrung Sewu akan berlangsung pada 24 Oktober, Seblang Olehsari pada 23–29 Maret, Kebo-Keboan Alasmalang pada 28 Juni, serta Petik Laut Muncar pada 10 Juli.
Tak hanya seni dan tradisi, Banyuwangi Attractions juga menghadirkan event olahraga yang menyasar wisata minat khusus. Bagi pecinta sepeda, tersedia Banyuwangi BMX Super Cross pada 27 Juni dan Banyuwangi Ijen Geopark Downhill pada 19–20 September. Sementara itu, penggemar olahraga lari akan disuguhi Ijen Green Run/Trail 2026 pada 12 September, yang menawarkan lintasan dengan panorama alam kawasan Ijen.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menambahkan bahwa rangkaian event tersebut bukan sekadar agenda wisata rutin, melainkan bagian dari strategi pembangunan daerah yang terintegrasi.
“Kami percaya, ketika budaya dijaga, olahraga digerakkan, dan lingkungan dirawat, maka pembangunan akan berjalan lebih berkelanjutan dan inklusif,” kata Hartono.
Ia menilai, Banyuwangi Attractions mampu mendorong perputaran ekonomi lokal, memperkuat citra positif daerah, serta mempererat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
Dengan 86 agenda yang tersebar sepanjang tahun, Banyuwangi menargetkan peningkatan kunjungan wisata sekaligus memastikan tradisi lokal tetap menjadi fondasi pembangunan daerah.**







